 Blog For Free!
Archives
Home
2004 January
My Links
elektro ugm
ugm
Jilbab Online
Greetmum's Blog
Drajat's Blog
Estin's Blog
Ftp_geo
Ismie's Blog
Abah's Blog
Apon's Blog
Nnur's Blog
Andhiena's Blog
tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images
Sponsored
Blog
Kirim Pesan via YM:
Muhammad Tasurun Aminudin,
sedang mencoba mengenali diri dengan membaca buku, mengamati lingkungan, belajar dari pengalaman, dan kemudian merenungkannya. Hasil perenungan ini selanjutnya dituliskan dalam bentuk diary, sebagai 'monumen' yang merekam lintasan pemikiran yang muncul. Sebagian dari tulisan tersebut ditampilkan disini, tentu saja setelah melalui proses editing, agar - setidaknya - cukup enak dan layak dibaca. Dengan proses seperti itu, dirinya berharap agar bisa terus 'bermetamorfosis' menjadi individu yang lebih baik :-)
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya
--Alhadits
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhu ia berkata: "Rasulullah shalallahu alaihi wa salam memegang pundakku, lalu bersabda: 'Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.'"
--(HR. Bukhari)
|
| Apa yang Sudah Kita Raih? |
| 01.13.04 (8:24 pm) [edit] |
Sering saya bertanya kepada sang diri, apa saja yang sudah kau raih dalam hidupmu? Keberhasilan, target, dan obsesi apa yang sudah engkau wujudkan? Sudahkah engkau merasa dirimu berguna? Dalam hal apa saja? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat saya tersadar bahwa selama ini telah menyia-nyiakan begitu banyak waktu untuk hal-hal yang sebenarnya tidak begitu bermanfaat.
Memang, dua hal yang sering dilalaikan manusia (sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam) adalah kesehatan dan waktu luang. Keduanya bisa menjadi bumerang jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak produktif baik untuk urusan dunia apalagi akhirat. Ada lelucon yang kadang membuat kita tersenyum, 'kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga', sepertinya enak banget kan? Tapi sunnatullah tidak menganut formula tadi. Setiap keberhasilan mesti diawali dengan tetesan peluh dan bahkan darah. 'Berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian' nampaknya lebih sesuai dan bisa diterima siapapun.
Pertanyaan-pertanyaan kepada sang diri memang perlu dilakukan untuk melakukan muhasabah (instrospeksi), sejauh mana kita memenuhi komitmen untuk berkembang ke arah yang lebih baik, menjadi manusia yang terus menerus meningkatkan kemampuan, kompetensi, maupun kedudukan di sisi Allah.
Permasalahannya terkadang sisi kita yang lain (rasa malas, alergi dengan perubahan, dan lebih senang mendekam dalam kenyamanan atau kemapanan yang telah diraih) membawa kita melenceng dari komitmen yang sudah kita tetapkan. Akibatnya banyak target-target personal yang tidak tercapai dan menyisakan penyesalan yang justru membawa efek negatif. Tentunya diperlukan mujahadah (kesungguhan) dalam berusaha dan berdo'a untuk melawan sikap-sikap tadi.
[i]Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesedihan dan kesusahan, rasa lemah dan malas, bakhil dan penakut, hutang yang menyibukkan dan laki-laki yang menindasku [/i](HR Bukhari 7/158)
|
|
|
| |
| Tatap Matamu Bagai BUSUR PANAH ? |
| 01.11.04 (4:27 pm) [edit] |
Dalam salah satu sesi bedah buku di sebuah pameran buku di Jogjakarta, ada satu hal menarik yang disampaikan oleh salah satu pembicaranya. Dia berkata seperti ini: [i]"Aku malu kalau menyanyikan lagu 'tatap matamu bagai busur panah'". [/i]Mengapa katanya? Karena metafora yang dipakai tidaklah tepat. Coba bayangkanlah busur panah yang melengkung. Anda pernah lihat busur kan? Nah, apa maknanya jika dipakai sebagai metafora bagi tatapan mata?
Jika dipikir memang betul juga, lain hasilnya jika yang dipakai sebagai metafora adalah anak panahnya. Bisa jadi ia melambangkan tatapan mata yang tajam menembus (relung hati). Adapun busur? Saya sendiri mencoba mencari-cari makna penggunaan busur panah ini. Mungkin saja kan pengarangnya mempunyai pertimbangan tertentu yang membuatnya memakai busur panah sebagai metafora?
Karena merasa penasaran saya mencoba [i]googling[/i] di internet dan menemukan lirik lengkapnya. Berikut ini dua kalimat awalnya: [i]Tatap matamu bagai busur panah Yang kau lepaskan ke jantung hatiku[/i]
Membaca ini saja memang sudah terasa janggal. Kok yang dilepaskan ke jantung hati justru busur panahnya? bukannya anak panah? Pantas saja jika sang pembicara tadi merasa malu jika melantunkan lirik ini. Atau Anda mungkin punya pemaknaan lain?
|
|
|
| |
| Ketika Hati Gundah |
| 01.09.04 (10:49 pm) [edit] |
Kegelisahan, kegundahan dan kegalauan kadang menghampiri kita pada saat-saat tertentu. Saat dimana diri kita merasa tidak bermakna dan tersisihkan. Memang perasaan seperti ini kadang muncul dari sikap reaktif kita saja. Bayang-bayang atau asumsi yang kita 'telan' mentah-mentah dari satu peristiwa yang realitanya tidaklah seperti itu. Biasanya berhubungan dengan kondisi kejiwaan kita yang tidak siap. Akibatnya perasaan-perasaan tadi muncul dan membuat sesak hati.
Begitu inginnya kita membagi hal tersebut kepada ibu, teman karib, atau istri/suami (bagi yang udah punya :p) untuk meringankan beban yang kita tanggung. Betapa inginnya kita membagi dengan seorang yang mau mengerti dan berempati dengan apa yang kita rasakan. (Deu, kok jadi melankolis gini =D)
Tentunya tidak semua orang yang disebutkan diatas dalam kondisi siap juga untuk menerima keluh-kesah kita. Bahkan bisa jadi apa yang kita sampaikan justru menambah beban pikiran mereka. Jadinya memberatkan juga kan? Kita pada akhirnya perlu mencari sumber rasa aman yang hakiki, yakni Allah, Rabb kita yang akan selalu siap mendengarkan keluh-kesah dan permintaan hambaNya. Dia tidak pernah tidur bahkan mengantuk sekalipun dan selalu siap mengabulkan doa hambaNya. "Berdoalah kepadaku niscaya akan aku kabulkan" begitulah salah satu firmanNya yang tentunya tidak akan diingkarinya (selama kita memenuhi syarat-syarat dikabulkannya sebuah do'a).
|
|
|
| |
| Sekilas Tentang Dampak Internet |
| 01.07.04 (10:39 am) [edit] |
Internet sedikit banyak telah merubah cara orang berinteraksi. Jika dulu berkirim surat ke saudara atau relasi kita perlu menulisnya diatas kertas, memberi perangko dan mengirimkannya via pos, maka sekarang cukup dengan mengetikkannya dikomputer dan mengirimkannya via internet dengan fasilitas yang bernama email [i](electronic mail). [/i]Berbicara dengan orang lainpun bisa dilakukan lewat chat dengan fasilitas yang berbasis text atau [i]voice[/i] (yang lebih dikenal dengan VoIP - [i]Voice over Internet Protocol[/i]) atau jika dimasing-masing komputer tersedia [i]webcam[/i] maka melihat lawan bicara pun bukan hal yang mustahil. Kesemuanya ini tentu semakin memudahkan saja dan yang lebih penting memangkas biaya yang relatif lebih besar jika memakai cara-cara konvensional.
Tetapi internet juga tidak lepas dari hal-hal negatif yang menyertainya. Konten-konten yang berbau pornografi pun tidak sedikit, provokasi bernada SARA, perjudian, prostitusi dan yang semacamnya juga banyak menjadi segmen pengisi ruang-ruang di internet. Memang, sebagai sebuah aplikasi yang bersifat terbuka, sensor terhadap internet menjadi susah dilakukan, walau masih terbuka kemungkinannya, seperti China yang membatasi akses internet untuk konten-konten politik yang tidak sehaluan dengan politik yang dianut disana.
Internet juga disinyalir sebagai salah satu media yang membuat orang berkembang menjadi 'anti sosial'. Mengapa? Karena dari kecenderungan yang ada, orang lebih suka [i]nongkrongin[/i] internet berjam-jam ketimbang melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Komunikasi cukup dilakukan malalui chatting dengan netter yang lainnya. Alhasil pergaulan sosial yang nyatapun terbengkalai. Toh hal semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh dan asing dilingkungan masyarakat yang aroma individualnya sudah kental.
[i]Anyway,[/i] semuanya akhirnya kembali ke masing-masing individu. Apakah dia akan memanfaatkan internet untuk kemanfaatan dan kemaslahatan dirinya, ataukah justru menjadi korban internet itu sendiri. Yang jelas, media ini - sebagaimana pisau yang bisa dipakai untuk memotong sayur dan juga membunuh - punya dua sisi yang bertolak belakang. Tentu pilihan ada ditangan kita. Nah, Anda memilih yang mana?
|
|
|
| |
| Ketika Harus Menyikapi Sebuah Masalah |
| 01.04.04 (11:36 am) [edit] |
Pernahkah anda mengalami masalah dalam hidup anda? Saya yakin pernah, karena toh sebagai manusia kita tidak bakalan terlepas dari hal ini. Kadarnya berbeda-beda begitu juga efeknya, tergantung bagaimana respon kita menghadapi dan menangani masalah tersebut.
Sebuah masalah yang kecil sering menjadi sumber kehancuran jika kita menanganinya tidak dengan cara-cara yang tepat dan tanpa pikiran yang jernih. Begitu juga sebaliknya, sebuah masalah yang begitu besar dan pelik, dengan penanganan yang brilian yang melibatkan kemampuan otak dan hati (berpikir logis dan jernih) akan lewat begitu saja dengan mudahnya.
Tentu setiap orang mempunyai kiat-kiat sendiri dalam merespon suatu masalah agar tidak terus menerus menghantui dan menjadi beban, termasuk juga Anda dan Saya, ia kan? Bahkan menuliskan hal ini baik dalam diary atau seperti yang saya lakukan saat ini pun dapat menjadi obat yang dapat meringankan masalah itu sendiri. Bukankah dengan mengungkapkannya, menuliskannya dan berbagi dengan orang lain sering meringankan bobot masalah itu sendiri?
Dalam konteks masalah tadi, pernahkah anda dipermalukan oleh seseorang di depan orang banyak? Jika belum, bersyukurlah. Jika pernah? patut bersyukur juga. Mengapa? Ada hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut. Yang jelas kita jadi tahu bagaimana rasanya dan akan menimbang-nimbang kembali jika akan melakukannya pada orang lain. Selain itu kita jadi berpikir kembali, adakah hal tersebut pernah kita lakukan dimasa lalu yang kemudian berimbas pada kita kini? (ingat bahwa do'a orang yang terdzalimi tidak ada hijab antara dia dengan Allah).
Tentu anda juga bakalan bingung jika tiba-tiba seseorang yang (menurut Anda) tidak ada permusuhan dengannya tiba-tiba melakukan hal diatas tadi. Apalagi jika (yang dia lakukan itu) adalah urusan pribadi Anda tanpa dia tahu masalahnya dengan pasti dan tanpa melakukan [i]cross check (tabayyun). [/i]Anda jadi bertanya-tanya mengapa dia melakukan hal itu. Apakah kita memang pernah menyakitinya atau ada alasan lain yang melatar belakangi?
Apapun alasannya kita harus menghadapinya dengan sabar dan ridho karena bagaimanapun juga itu merupakan qodarullah ([i]"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman keapda Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Ath-Thaghabun:11)) [/i]dan akan menghapus sebagian dosa kita ([i]Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya." [/i](HR. Bukhari-Muslim))
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kitapun sering mengedepankan emosi (termasuk saya). Bagaimanapun juga sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan manusia lainnya akan kita temui gesekan, kesalah pahaman, dan masalah-masalah sejenis. Manusia bukanlah [i]thing[/i] yang tidak punya perasaan dan emosi. Kita hanya bisa meminimalisasi dan bukan menghilangkan sama sekali.
|
|
|
| |
| Memaknai Kegagalan |
| 01.04.04 (10:20 am) [edit] |
Kehidupan, demikian kata orang, ibarat roda yang berputar, ada saatnya diatas dan ada saatnya dibawah. Dari fakta-fakta sejarah, dan riwayat hidup banyak orang, ungkapan ini ada benarnya juga. Lihatlah perjalanan dakwah Rasulullah, dari mulai awal dakwah beliau di Mekkah, yang 'cuma' berhasil 'menyadarkan' beberapa orang, itupun dengan diiringi cacian, makian, dan juga siksaan pada pengikut-pengikut beliau dan tentunya beliau sendiri, sampai akhirnya menancapkan pilar Islam di madinah yang tidak lepas dari keadaan naik dan turun. Sampai akhirnya kini Islam tersebar dari ujung barat sampai ujung timur bumi.
Kita tentunya juga mengenal Thomas alva Edison, yang sempat dikeluarkan dari sekolah karena dianggap 'bodoh' dan lamban dalam menangkap pelajaran, namun akhirnya berhasil mempatenkan sekitar 3000-an penemuan.
Dua ilustrasi diatas, menyodorkan satu fakta, bahwa kegagalan tidaklah berarti berakhirnya sebuah tujuan, apalagi akhir dari segalanya. Banyak kita jumpai individu-individu yang frustasi bahkan bunuh diri karena sebab yang satu ini. Gagal dalam cinta, karier, rumah tangga, dan lainnya, sering menjadi sumber kehancuran psikis seseorang, yang pada akhirnya menghancurkan fisiknya juga. Apa bunuh diri memberikan solusi? Sama sekali tidak, bahkan jenis kehancuran yang lain (yang bahkan lebih dahsyat) sudah menunggunya.
Ada baiknya kita merenungi kembali ungkapan bijak satu ini 'kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda'. Sering sebuah (atau banyak) kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Bahkan bisa dibilang, kegagalan merupakan keberhasilan dalam bentuk yang lain. Mengapa? karena kegagalan memberikan kita pengalaman berharga. Dalam beberapa kasus, kegagalan justru menjadi pemicu bangkitnya potensi yang lebih besar yang selama ini tersembunyi.
Faktor penentu sebenarnya terletak pada kondisi kejiwaan kita (baca: mental), siapkah kita menghadapinya dan bangkit kembali menyusuri alur-alur yang mengantar ke tujuan kita? Atau justru terjebak dalam kubangan yang entah dimana tepinya?
Tidak penting berapa kali engkau gagal, kata Lincoln, yang penting berapa kali engkau bangkit.
|
|
|
| |
| Menyusuri Jejak Masa Lalu |
| 01.04.04 (10:17 am) [edit] |
Menyusuri kembali alur kehidupan yang pernah kita lewati akan memunculkan kembali emosi-emosi yang dulu pernah menyertai, sedih, senang, benci, cinta, atau bahkan tanpa ekspresi. Repotnya jika penelusuran kita ini sampai pada pengalaman tragis dan traumatis yang sebenarnya ingin kita kubur dalam-dalam. Luka lama mungkin akan kembali terbuka dan kembali membuat tersayatnya hati. Akhirnya kita akan kembali merasa rapuh dan lumpuh serta tak berdaya....
Bagaimanapun juga menengok kembali masa lalu tetap diperlukan untuk tujuan-tujuan yang positif. Menggali kembali pengalaman kegagalan kita, untuk kemudian menjadikannya sebagai pelajaran di masa kini dan masa yang akan datang. Juga mengenang kembali jejak kesuksesan di masa lalu walau mungkin sudah tidak begitu relevan lagi untuk masa sekarang. Semuanya tentunya dijadikan sebagai ibrah (pelajaran) sebagai bekal menempuh perjalanan berikutnya.
Memang ada kejadian-kejadian tertentu yang membuat kita merasa enggan untuk mengingatnya, kesalahan dan blunder kita dimasa lalu tentunya ingin kita cut saja dari rekaman kehidupan kita. Tapi sekali lagi, setiap peristiwa mesti mengandung hikmah, dan pengalaman masa lalu turut andil dalam membentuk karakter kita saat ini. Warna-warni emosi yang pernah kita alami adalah bagian dari hidup kita juga. Bukankah justru akan semakin melengkapi koleksi emosi yang pernah kita rasakan?
Penyesalan bukanlah solusi, karena hanya akan membuat kita berandai-andai ria. Ungkapan 'seandainya aku dulu begini, seandainya aku dulu begitu' hanya akan mematikan produktifitas, energi kita akan terbuang percuma dan justru melumpuhkan kreatifitas. Apa yang akan kita dapat dari penyesalan masa lalu? nothing dan hanya menyisakan angan yang terus terbuai dan berandai-andai. Kembali dengan mesin waktu? ide yang absurd.
|
|
|
| |
|
Tulis Pesan
I made a discovery today. I found a computer. Wait a second, this is cool. It
does what I want it to. If it makes a mistake, it's because I screwed it up. Not
because it doesn't like me...Or feels threatened by me...Or thinks I'm a smart
ass...Or doesn't like teaching and shouldn't be here...
--salah satu fragmen The Hacker Manifesto oleh The mentor
Anda tamu ke:
|